Motivasi Agama Secara Syar’i
Setiap insan merindukan motivasi agama secara syar’i untuk dijadikan fatwa dan penghancur pagar batas antara insan tersebut dengan illah-Nya (Tuhan). Rasa haus akan ilmu, yang tak letih untuk dicari dimanapun bumi terpijak. Tak pelak, kini kesibukan dan ketamakan dunyawi terus menerus bergulir sehingga tercipta jarak yang amat panjang dengan tujuan hidup yang seharusnya. Kekosongan bathin, mendesak setiap insan bergumul dengan rutinitas tiada henti, tanpa bahagia didalamnya.
Bukankah bahagia menjadi dambaan? Mengapa begitu sulit?
Mencari Jawaban Dengan Motivasi Agama Secara Syar’i
Jawabannya sederhana, dan Motivasi agama secara syar’i berikut semoga menjadi pencerahan. Sejatinya, bahagia itu diciptakan, bukan alasannya ialah kebetulan apalagi keberuntungan. Proses menciptakan bahagia tak serumit deretan angka logaritma. Contohnya tersenyum, selain berpahala dengan senyum sekeliling kita tersebar suatu rasa bangga yang membuat bahagia. Tak hanya itu, senyum melambangkan satu keramahan, satu keikhlasan, satu kekuatan, proses spiritual ihwal senyum dengan tulus dapat membuat suatu pekerjaan rumit menjadi ringan. Jadikan senyum sebagai treatment awal kebahagiaan.
Selanjutnya motivasi agama secara syar’i ialah kemauan kita untuk mengenal siapa illah (Tuhan) yang kita sembah. Sesungguhnya, mengenal illah (Tuhan) diharapkan pendekatan bathinniyah, tahapan pertama dengan patuh akan segala perintah-Nya dan mejauhi segala yang menjadi murka-Nya. Seorang insan yang begitu mencintai illah (Tuhan) dapat terlihat dari seberapa sering ia menyebut nama-Nya, menimbulkan ibadah bukan bab dari kewajiban tapi lebih dari kebutuhan. Menjadikan larangan sebagai suatu kenistaan yang harus ditinggalkan sejauh-jauhnya.
Motivasi agama secara syar’i tidak mengajarkan ummat insan menjadi satu figure yang sok suci. Melainkan sebisa mungkin biar leburnya hijab atau batasan dengan sang Khaliq. Menyadari bahwa insan ialah makhluk dengan segala keterbatasan, tapi itu bukan alasan alasannya ialah insan memiliki logika yang menjadi sempurnanya makhluk dibanding yang lain. Sudah seharusnya kita gunakan logika dengan benar, apabila tersesat kita telah dibekali Al-Qur’an dan hadits, disanalah petunjuk yang haqiqi untuk kembali.
Motivasi agama secara syar’i selanjutnya ialah kita dianjurkan untuk menjaga lisan. Petaka sering datang alasannya ialah jahatnya lisan, baik sengaja atau tidak. Dari sebuah mulut ini, amalan yang sedikit demi sedikit diperoleh menjadi tiada guna. Bahkan rasullullah pernah bersabda dengan lirihnya, bahwa sebahagian penduduk neraka ialah mereka yang tidak menjaga lisannya. Na’udzubillah. Ingatlah bahwa dunia hanya persinggahan. Insan yang mencintai dunya melebihi illah (Tuhan), sungguh satu kenistaan.
Tinggalkan kesibukan anda, sempatkan peluang beribadah. Ingatlah kemana anda kembali, jauhi dunyawi alasannya ialah di akhiratlah kebahagiaan anda abadi. Banyak-banyaklah berkumpul dengan orang shalih, bekerjsama mereka setia saling ingat-mengingatkan akan kebaikan. Juga sebagai sumber ilmu motivasi agama yang ampuh saat anda dalam kesulitan. Sumber http://www.bbmimages.com
Bukankah bahagia menjadi dambaan? Mengapa begitu sulit?
Mencari Jawaban Dengan Motivasi Agama Secara Syar’i
Jawabannya sederhana, dan Motivasi agama secara syar’i berikut semoga menjadi pencerahan. Sejatinya, bahagia itu diciptakan, bukan alasannya ialah kebetulan apalagi keberuntungan. Proses menciptakan bahagia tak serumit deretan angka logaritma. Contohnya tersenyum, selain berpahala dengan senyum sekeliling kita tersebar suatu rasa bangga yang membuat bahagia. Tak hanya itu, senyum melambangkan satu keramahan, satu keikhlasan, satu kekuatan, proses spiritual ihwal senyum dengan tulus dapat membuat suatu pekerjaan rumit menjadi ringan. Jadikan senyum sebagai treatment awal kebahagiaan.
Selanjutnya motivasi agama secara syar’i ialah kemauan kita untuk mengenal siapa illah (Tuhan) yang kita sembah. Sesungguhnya, mengenal illah (Tuhan) diharapkan pendekatan bathinniyah, tahapan pertama dengan patuh akan segala perintah-Nya dan mejauhi segala yang menjadi murka-Nya. Seorang insan yang begitu mencintai illah (Tuhan) dapat terlihat dari seberapa sering ia menyebut nama-Nya, menimbulkan ibadah bukan bab dari kewajiban tapi lebih dari kebutuhan. Menjadikan larangan sebagai suatu kenistaan yang harus ditinggalkan sejauh-jauhnya.
Motivasi agama secara syar’i tidak mengajarkan ummat insan menjadi satu figure yang sok suci. Melainkan sebisa mungkin biar leburnya hijab atau batasan dengan sang Khaliq. Menyadari bahwa insan ialah makhluk dengan segala keterbatasan, tapi itu bukan alasan alasannya ialah insan memiliki logika yang menjadi sempurnanya makhluk dibanding yang lain. Sudah seharusnya kita gunakan logika dengan benar, apabila tersesat kita telah dibekali Al-Qur’an dan hadits, disanalah petunjuk yang haqiqi untuk kembali.
Motivasi agama secara syar’i selanjutnya ialah kita dianjurkan untuk menjaga lisan. Petaka sering datang alasannya ialah jahatnya lisan, baik sengaja atau tidak. Dari sebuah mulut ini, amalan yang sedikit demi sedikit diperoleh menjadi tiada guna. Bahkan rasullullah pernah bersabda dengan lirihnya, bahwa sebahagian penduduk neraka ialah mereka yang tidak menjaga lisannya. Na’udzubillah. Ingatlah bahwa dunia hanya persinggahan. Insan yang mencintai dunya melebihi illah (Tuhan), sungguh satu kenistaan.
| gambar kata-kata bijak nasehat |
| Menegur jangan hingga menghina, mendidik jangan sampai memaki, meminta jangan hingga memaksa, memberi jangan hingga mengungkit. |
Tinggalkan kesibukan anda, sempatkan peluang beribadah. Ingatlah kemana anda kembali, jauhi dunyawi alasannya ialah di akhiratlah kebahagiaan anda abadi. Banyak-banyaklah berkumpul dengan orang shalih, bekerjsama mereka setia saling ingat-mengingatkan akan kebaikan. Juga sebagai sumber ilmu motivasi agama yang ampuh saat anda dalam kesulitan. Sumber http://www.bbmimages.com
Komentar
Posting Komentar